Penulis
Ida Hidayati
Tanggal
01 June 2026
Apakah kita sudah familiar dengan istilah pendidikan seksualitas?
Saat ini, Indonesia menghadapi ancaman yang cukup serius terkait kekerasan dan pelecehan seksual. Berita tentang kasus-kasus tersebut hampir setiap hari menghiasi berbagai media. Korbannya pun tidak hanya orang dewasa, tetapi juga remaja bahkan anak-anak yang masih di bawah umur. Tentu kondisi ini menimbulkan kecemasan tersendiri, khususnya bagi para orang tua yang menginginkan anak-anaknya tumbuh dengan aman dan terlindungi.
Namun ironisnya, pembahasan mengenai pendidikan seksualitas masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat. Tidak sedikit orang tua yang menganggap topik ini bertentangan dengan budaya, tidak pantas dibicarakan, bahkan dianggap sebagai sesuatu yang tidak senonoh untuk diajarkan kepada anak-anak. Padahal, justru pemahaman yang benar tentang pendidikan seksualitas sangat penting diberikan sejak dini sesuai dengan usia dan tingkat pemahaman anak.
Pendidikan seksualitas adalah proses pembelajaran yang memberikan pemahaman tentang kesehatan organ reproduksi, fungsi tubuh, batasan diri, serta aspek emosional dan sosial yang berkaitan dengan seksualitas. Tujuannya bukan untuk mendorong seseorang melakukan aktivitas seksual, melainkan membekalinya dengan pengetahuan yang benar agar mampu menjaga kehormatan diri, mengenali potensi bahaya, serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Dalam Islam, pendidikan seksualitas dikenal dengan istilah Tarbiyah Jinsiyah, yaitu pendidikan yang mengajarkan adab, akhlak, serta tuntunan syariat yang berkaitan dengan fitrah manusia. Pendidikan ini mencakup penjagaan aurat, etika pergaulan, adab meminta izin, pemisahan tempat tidur anak, hingga pemahaman tentang pernikahan dan tanggung jawab dalam berkeluarga. Dengan demikian, Tarbiyah Jinsiyah bukan sekadar membahas aspek biologis, tetapi juga membentuk kesadaran spiritual dan moral agar seorang muslim mampu menjaga diri sesuai tuntunan agama.
Melalui pendidikan yang benar dan sesuai syariat, anak-anak tidak hanya terlindungi dari berbagai bentuk kekerasan dan pelecehan seksual, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang memahami kehormatan dirinya serta menghormati orang lain. Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya pemahaman biologis sebagaimana yang umumnya dibahas dalam pendidikan seksualitas, melainkan juga pembinaan akidah, akhlak, dan ibadah yang menjadi pondasi utama dalam Tarbiyah Jinsiyah.
Dalam Tarbiyah Jinsiyah, seseorang diajarkan untuk memahami batasan-batasan syariat, seperti aurat, mahram, serta etika pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Di dalamnya juga dibahas larangan khalwat (berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram) dan ikhtilat (campur baur laki-laki dan perempuan tanpa kebutuhan yang dibenarkan syariat), sehingga pendidikan ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana perlindungan diri, tetapi juga sebagai upaya menjaga kehormatan, kesucian, dan ketakwaan seorang muslim dalam kehidupannya sehari-hari.
Lebih dari itu, Tarbiyah Jinsiyah memberikan pemahaman yang mendalam tentang konsep aurat. Aurat bukan sekadar aturan tentang bagian tubuh yang wajib ditutupi, melainkan sarana untuk menanamkan kesadaran bahwa tubuh manusia adalah amanah dan memiliki kemuliaan yang harus dijaga. Melalui pemahaman ini, seseorang akan mengetahui batasan-batasan yang benar terkait tubuhnya, memahami bagian mana yang boleh dan tidak boleh dilihat atau disentuh oleh orang lain, serta memiliki keberanian untuk menjaga dan melindungi dirinya dari segala bentuk tindakan yang melanggar kehormatan.
Inilah pentingnya mempelajari Tarbiyah Jinsiyah dalam Islam. Pendidikan ini tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran, tanggung jawab, dan ketakwaan. Dengan bekal tersebut, seorang muslim mampu menjaga diri sesuai tuntunan syariat, menghormati kehormatan orang lain, serta menghadapi berbagai tantangan pergaulan di era modern dengan landasan iman dan akhlak yang kuat.
Membicarakan pendidikan seksualitas atau Tarbiyah Jinsiyah bukanlah hal yang tabu. Justru melalui pemahaman yang benar dan selaras dengan nilai-nilai Islam, kita dapat menumbuhkan kesadaran untuk menjaga kehormatan diri, memahami batasan-batasan yang telah ditetapkan syariat, serta berani menolak segala bentuk tindakan yang melanggar kehormatan dan martabat manusia. Dengan demikian, lingkungan yang aman, sehat, nyaman, dan penuh rasa saling menghormati dapat terwujud, baik di keluarga, sekolah, maupun di lingkungan pesantren.
Penulis: Ida Hidayati
sumber:
pembahasan sex education untuk anak-anak oleh instagram Nawaning Nusantara dan Ning Fierda Rofi’i Ya’qub
sex education dalam islam oleh youtube Ummahrayyanshddq
Artikel
Institute Al-Yasini Fest (IAF) 2026 menjadi momentum refleksi keilmuan bagi Institut Agama Islam Al-Yasini Pasuruan dalam memadukan tradisi pesantren, akhlak, dan ilmu pengetahuan modern.
Artikel
Nabi Ibrahim merupakan teladan agung dalam membangun pendidikan humanis yang berpijak pada nilai ketuhanan. Di tengah kehidupan manusia yang sering menjadikan kebebasan sebagai tujuan tanpa batas, Nabi Ibrahim menghadirkan ajaran tentang pentingnya memuliakan manusia tanpa melepaskannya dari tauhid kepada Allah.